Kabupaten Bangli merupakan Kabupaten di Bali yang tidak memiliki wilayah pantai. Letak Geografisnya Kabupaten Bangli di antara 08


download 39.09 Kb.
jenengKabupaten Bangli merupakan Kabupaten di Bali yang tidak memiliki wilayah pantai. Letak Geografisnya Kabupaten Bangli di antara 08
KoleksiDokumen
a.kabeh-ngerti.com > Geografi > Dokumen
RINGKASAN

EKSEKUTIF



Kabupaten Bangli merupakan Kabupaten di Bali yang tidak memiliki wilayah pantai. Letak Geografisnya Kabupaten Bangli di antara 080 08 30 - 080 31 07 Lintang Selatan dan 1150 13 43 – 1150 27 24 Bujur Timur. Suhu udara rata-rata berkisar 24,90 C dengan tingkat kelembaban 88 serta curah hujan berkisar 797 mm per tahun, dengan ketinggian 100 - 2.152 m dari permukaan laut, dibagian selatan dataran rendah dan di utara merupakan pegunungan yaitu puncak penulisan dan Gunung Batur dengan kepundannya. Danau Batur yang memiliki luas 1.067,50 Ha, serta pegunungan berilief halus sampai kasar batuannya terdiri dari endapan vulkanik Gunung Batur berupa lahar yang bersifat agak kompak. Secara administrasi Kabupaten Bangli, terbagi menjadi 4 wilayah Kecamatan dan 72 desa/kelurahan yaitu : Kecamatan Susut, Bangli Tembuku dan Kintamani. Luas wilayah Kabupaten Bangli adalah 52.081 Ha atau 9,24% dari luas wilayah Provinsi Bali (563.666 Ha).

Kondisi fisik dasar wilayah kabupaten berdasarkan aspek topografi, geologi, hidrologi, dan iklim. Topografi wilayah berada pada ketinggian antara 100 – 2.152 meter dpl, dengan puncak tertinggi adalah Puncak Penulisan. Secara umum rentang ketinggian wilayah kecamatan Susut (100–920 m), Kecamatan Bangli (100 – 1200 m), Kecamatan Tembuku (320 – 920 m) dan Kecamatan Kintamani 920 – 2.152 m. Kelerengan wilayah bervariasi antar wilayah kecamatan dan secara umum berada pada kondisi dataran (0–2%), landai (2-15%), bergelombang (15-30%), curam (30-40%) dan sangat curam (>40%).

Berdasarkan aspek Geologi, Kabupaten Bangli secara umum termasuk dalam formasi Buyan, Beratan dan Gunung Batur (Qpbb) yang berumur kuarter. Formasi ini pada bagian permukaan didominasi oleh tufa pasiran dan di beberapa tempat dijumpai tufa batu apung dan endapan lahar. Tufa pasiran umumnya melapuk menengah – tinggi berwarna kuning kecoklatan, berukuran pasir halus – kasar. Tufa batu apung berwarna putih kecoklatan, agak rapuh dan mudah lepas. Endapan lahar berwarna abu-abu sampai abu-abu kehitaman terdiri dari batuan beku andesit dan batuapung dengan masa tufa pasiran bersifat agak rapuh. Pada kaldera batur formasi geologi terdiri dari formasi geologi Batuan Gunung api Batur yang mengandung aglomerat, lava, dan tufa.

Hidrologi wilayah terdiri atas air permukaan dan air tanah. Air permukaan terdiri dari Danau Batur dengan luas 1.607 Ha, kedalaman 70 meter, volume 815,58 juta/m3, panjang panjang garis pantai (shoreline) 21,4 km dengan daerah tangkapan seluas 10.535 Ha. Sungai yang ada di Kabupaten Bangli berjumlah 14 buah yang merupakan hulu-hulu sungai utama yang bermuara di bagian Selatan Pulau Bali. Air tanah di Kabupaten Bangli berdasarkan Peta Pengendalian pengambilan air tanah dan perlindungan daerah resapan (Dep. ESDM), menyatakan bahwa seluruh wilayah Kabupaten Bangli dari bagian utara Kota Bangli ke arah utara merupakan Daerah Resapan Air yang mengisi Cekungan Air Tanah (CAT) wilayah Kabupaten/Kota Sarbagita termasuk wilayah Kabupaten Bangli bagian selatan. Jumlah potensi mata air di Kabupaten Bangli tersebar di 88 buah titik di 42 desa dengan debit total 1.561,30 ltr/dt. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah umumnya pendek dan jenis alirannya bersifat ephemeral, yang sebagian besar terletak di sebelah Utara, sedangkan yang mengalir ke bagian Selatan lebih panjang, aliran sungainya kebanyakan bersifat perenmial.

Kabupaten Bangli memiliki iklim tropis, suhu udara relatif rendah berkisar antara 150 – 300 C, semakin ke utara suhu semakin dingin. Angka curah hujan rata-rata tahunan terendah adalah 900 mm dan tertinggi 3.500 mm. Penyebaran curah hujan relatif tinggi (2.500 - 3.500 mm) meliputi bagian utara (lereng Gunung Batur) dan semakin rendah ke arah selatan wilayah. Curah hujan tertinggi terjadi bulan Desember – Maret dan terendah pada bulan Agustus.

Penggunaan untuk lahan tegalan atau kebun campuran 45,55%, hutan negara 17,94%, perkebunan 14,52%, permukiman dengan pekarangannya 6,38%, lahan kering lainnya 5,84%, persawahan 5,55%, hutan rakyat 4,2% dan lainnya. Pemanfaatan sawah hanya terdapat di Kecamatan Bangli, Susut dan Tembuku sedangkan Kecamatan Kintamani didominasi pemanfaatan hutan, tegalan dan kebun.

Komposisi guna lahan tersebut mengindikasikan bahwa Kabupaten Bangli bukanlah kawasan sentra budidaya tanaman pangan (sawah), namun berdasarkan potensi fisik alamnya merupakan kawasan yang berpotensi dikembangkan untuk perkebunan dan kehutanan. Sebaran persawahan hanya terdapat di Kecamatan Susut, Bangli dan Tembuku dengan komposisi 5,55% dari luas wilayah.

Wilayah Kabupaten Bangli memiliki kawasan lahan kering dan perkebunan yang cukup luas hampir 34.329 Ha (65,95% wilayah) dan hal ini merupakan potensi lahan yang cukup besar bila dibandingkan luasan kawasan perkebunan produktif kopi (4.593 Ha), cengkeh (194 Ha), kakao (327 Ha), sehingga masih banyak potensi lahan kurang produktif yang belum termanfaatkan.

Hutan negara di wilayah Kabupaten Bangli seluas 9.341,28 Ha, merupakan kawasan hutan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan fungsi Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Taman Wisata Alam (TWA) terdiri atas HL Penulisan-Kintamani (4.219,3 Ha), HL Munduk Pengajaran (613 Ha), HL Gunung Abang-Agung 1.406,71 Ha), HPT Batur Bukit Payang (453 Ha), TWA Batur Bukit Payang (2.075 Ha) dan TWA Gunung Abang-Agung 574,27 Ha),

Secara administrastif Kabupaten Bangli terbagi menjadi 4 Kecamatan yaitu (1) Kecamatan Susut, (2) Kecamatan Bangli, (3) Kecamatan Tembuku dan (4) Kecamatan Kintamani serta terdiri dari 563 (desa/kelurahan,dusun/lingkungan dan desa pakraman).
Jumlah PNS tahun 2004 sebanyak 3.570 orang yang terdiri dari 993 golongan IV, 1.837 golongan III, 684 golongan II dan 56 golongan I , sedangkan di tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi 4.142 orang atau meningkat 16,02%.

Dari hasil registrasi penduduk, jumlah penduduk kabupaten Bangli terus bertambah dari tahun 2004 sebanyak 210.103 jiwa meningkat menjadi 213.808 jiwa pada tahun 2008. Meskipun jumlah penduduk bertambah, tapi laju pertumbuhan penduduk relative stabil yaitu rata-rata sebesar 0,43 % per tahun.

Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur 0 - 4 tahun adalah sebanyak 55.858 orang di tahun 2004 dan ditahun 2008 jumlahnya mengalami penurunan menjadi 56.974 orang, penduduk usia 15 – 64 tahun mengalami penurunan dari 139.376 orang di tahun 2004 menjadi 141.655 orang tahun 2008, sedangkan penduduk usia diatas 65 tahun ke atas jumlahnya kecendrungan meningkat dari 14.869 orang menjadi 15.182 orang. Dengan meningkatnya kelompok umur 0 – 14 tahun dan 65 tahun keatas, sedangkan kelompok umur usia produktif menurun menyebabkan ratio ketergantungan mengalami peningkatan dari 50,75 menjadi 50,94 per 100 orang usia produktif

Jumlah penduduk usia kerja di kabupaten Bangli terus mengalami penigkatan di tahun 2000 angkatan kerja sebesar 124.165 orang meningkat menjadi 164.534 orang ditahun 2008, dari jumlah tersebut tingkat penggangguran terbuka sebesar 2,56% dengan TPAK sebesar 84,42%,

Rasio fasilitas kesehatan rata-rata sebesar 31,51 per 100.000 penduduk artinya setiap sekitar 1 fasilitas kesehatan mampu melayani penduduk 3,173.81 jiwa penduduk, sedangkan pada tahun 2001 AKB Kabupaten Bangli sebesar 18,01 menurun menjadi 11,11 di tahun 2008, sedangkan untuk AKABA tahun 2005 adalah 12,18 menurun menjadi 10,42 di tahun 2008 dan AKI sebesar 58,43 di tahun 2001 mengalami penurunan di tahun 2008 menjadi 54.22.

Angka kesakitan (morbidity rate) dan rata-rata lamanya sakit penduduk Kabupaten Bangli 20,39% lebih rendah bila dibandingkan dengan Provinsi Bali sebesar 22,35%, sedangkan lamanya sakit rata-rata 4,71 hari lebih tinggi dari Provinsi Bali sebesar 4,66 hari (SUSEDA, 2008). Angka kesakitan DBD mencapai 35,54% per 100.000 penduduk tahun 2008, meningkat 17,92% dari tahun 2007, TB paru 37,41% tahun 2008 menurun dibandingkan di tahun 2007 sebesar 90,67% per 100.000 penduduk.

APS biasanya diterapkan untuk kelompok umur sekolah menurut jenjang pendidikan SD, SLTP dan SLTA. APS untuk kelompok SD di Kabupaten Bangli menunjukan angka 96,60% (Bali 97,16) ini berarti dari 100 orang penduduk usia 7–12 tahun, 97 orang penduduk sedang bersekolah. Semakin tinggi jenjang kependidikan, angka partisipasi sekolah menunjukan kecendrungan menurun, ini terlihat dari APS SLTP sebesar 91,17 (Bali 91,36), dan SLTA 54,56 (Bali 68,54) tahun 2008

APM pada tahun 2008 yang sama menunjukkan kisaran antara 88,73 sampai 95,37. artinya bahwa dari penduduk usia sekolah dasar 7-12 tahun masih ada yang tidak bersekolah pada usia 7-12 tahun. Sedangkan APK SLTP sebesar 88,44 APK SLTA sebesar 57, dan APK WAJAR sebesar 99,39 (SUSEDA, 2008

Jumlah sekolah TK di tahun 2004 sebanyak 42 buah meningkat menjadi 63 buah di tahun 2008, untuk SD dan SMU peningkatannya hanya satu sekolah dari tahun 2004, SMP mengalami peningkatan sebesar 6 buah, sedangkan ratio guru antara 15 – 18 orang untuk SD, untuk SMP antara 12 – 16 orang dan untuk SMU 9 – 12 orang per 1 orang guru.

Jumlah tempat ibadah umat Hindu sebanyak 1.741 yang terdiri dari (1) Pura Kayangan Tiga, (2) Pura Sad Kayangan, (Dang Kayangan), (4) pura Swagina dan (5) Pura Paibon, untuk umat Islam mesjid sebanyak 6 buah, umat Kristen dan Budha masing-masing 1 buah dan jumlah rohaniawan sebanyak 85 orang pendeta Hindu, 929 orang pemangku, 9 orang alim ulama dan 1 orang masing-masing untuk pendeta kristen, pastor dan suster.

Hasil produksi tanaman pangan dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi yang sangat tergantung pada luas panen untuk bahan pangan yang mengalami penurunan dari 11,413.40 Ha di tahun 2004 menjadi 11,074.65 Ha di tahun 2008. produktivitasnya Ubi kayu mempunyai rata-rata produktivitas tertinggi yaitu mencapai 190 ton/Ha, urutan yang ke dua diduduki oleh Ubi Jalar dengan produktivitas 69,25 ton/Ha dan urutan ke tiga adalah Padi sawah mencapai 26,43 ton/Ha

Produksi sayuran yang paling dominan adalah bawang merah dengan produksi rata-rata pertahunnya mencapai 13.395,36 ton disusul oleh sayuran Kubis dengan produksi rata-rata sebesar 11.432,34 ton dan yang ketiga adalah tomat dan cabai yang masing produksinya rata-ratanya sebesar 4,718.39 ton dan 4,229.55 ton.

Tanaman kopi Arabika dan Kakao (Agro industri). Pada tahun 2008 tercatat luas areal tanaman kopi Arabika 4.289 Ha meningkat bila dibanding pada tahun 2004 seluas 4.257,2 Ha dan Kakao dari 222,4 Ha di tahun 2004 menjadi 326 Ha di tahun 2008, sedangkan produktivitas rata-rata tanaman ini masing-masing 2,78 Ton/Ha untuk Kopi dan 2,72 Ton/Ha untuk Kakao.

Sektor unggulan yang lain yang mempunyai prospek adalah jeruk yang sudah terkenal yang sering disebut dengan jeruk Kintamani produksi jeruk rata-rata selama kurun waktu 5 tahun terakhir adalah sebesar 67,127.50 ton, disamping jeruk produksi terbesar ke dua adalah pisang dimana produksinya mencapai rata-rata 68,696.78 ton.

Komoditi perikanan yang paling potensial untuk dikembangkan di danau Batur dengan sistem Keramba Jaring apung (KJA) adalah ikan nila dengan luas lahan, yang baru dimanfaatkan rata-rata 0,8 ha pertahun dari potensi lahan perairan danau Batur yang dapat dikembangkan masih sangat luas yaitu maksimal 5 – 10% dari luas perairan Danau Batur sebesar 1.607,50 Ha. Produksi ikan rata-rata pertahunnya sebesar 162.861,42 ton untuk hasil perikanan budidaya, sedangkan hasil penangkapan rata-rata 109.709,92. Adapun benih ikan yang dihasilkan rata-rata pertahunnya sebesar 6.853.770 ekor/tahun dengan luas pembenihan rata-rata 5,72 Ha,

Luas hutan di Kabupaten Bangli sampai dengan tahun 2008 adalah 9.341,28 Ha yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan suaka alam, hutan wisata alam, dan sebaran hutan rakyat. Dari jumlah tersebut hutan lindung yang paling luas yaitu sekitar 6.239,01 Ha. Kontribusi sub sektor kehutanan terhadap PDRB adalah sebesar 0,05%, potensi pengembangan ± 28.853,73 Ha.

umlah ternak sapi Bali di Kabupaten Bangli setiap tahun mengalami peningkatan, tahun 2008 jumlah ternak sapi sebanyak 93.725 ekor dengan rata-rata pertahunnya sebanyak 85.211 ekor. Sedangkan jumlah ayam ras pedaging dan petelur selama kurun waktu 5 tahun terus mengalami penurunan dari 880.144 ekor dengan jumlah peternak 487 orang untuk ayam ras petelur di tahun 2004 turun menjadi 542.050 ekor dan jumlah peternak sebanyak 88 orang di tahun 2008 dan untuk ayam pedaging dari 1.248.380 ekor tahun 2004 dengan jumlah peternak sebanyak 422 turun menjadi 581.000 ekor di tahun 2008. Jumlah ternak babi meningkat yaitu tahun 2004 jumlahnya sebesar 62.172 ekor di tahun 2008 menjadi 66.997 ekor.

Penyerapan rata-rata tenaga kerja pada masing-masing industri kecil adalah antara 3 – 5 orang per industri. Kondisi yang sama juga dialami oleh industri kecil kerajinan rumah tanga dengan penyerapan tenaga kerja rata-rata antara 1 – 2 orang per industri,

Banyak SIUP yang dikeluarkan oleh dinas/instansi yang terkait dari jenis usaha selama 5 tahun (2004 – 2008) pengeluaran SIUP mengalami meningkatan seperti SIUP untuk perdagangan skala kecil dari 87 buah SIUP meningkat menjadi 139 buah di Tahun 2008

Jumlah koperasi di Kabupaten Bangli dari tahun 2001 – 2008 terus mengalami peningkatan yaitu dari 71 buah koperasi menjadi 191 buah koperasi, sedangkan jumlah anggota dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi tahun 2001 jumlah koperasi sebanyak 95.059 orang dan tahun 2008 jumlah turun setengahnya yaitu sebanyak 43.733 orang dengan jumlah modal rata-rata sebanyak Rp. 5.765.928.022,89.

Perkembangan sarana akomodasi serta fasilitasnya mengalami peningkatan dan penurunan tahun 2004 jumlah hotel sebanyak 24 meningkat menjadi 29, sedangkan jumlah kamar dan tempat tidur mengalami penurunan masing-masing 255 buah tahun 2004 menjadi 205 buah tahun 2008, komposisi kunjungan antara wisatan manca negara dengan nusantara perbandingannya adalah rata-rata 80% berbanding 20%.

Pada kawasan hutan lindung, hampir sebagian besar luasannya merupakan lahan sangat kritis (tanpa vegetasi) bahkan sebagian besar merupakan lahan bekas aliran lahan di sekitar Gunung Batur. Secara umum jumlah lahan kritis di Kabupaten Bangli adalah 8,94% dari luas wilayah (sangat kritis dan kritis), agak kritis (15,37%) dan terjadi potensial lahan kritis yang sangat besar hampir 70,84% wilayah

Ketidakseimbangan pembagian luas wilayah kecamatan ditunjukkan oleh data bahwa 29,55% wilayah terbagi menjadi 3 kecamatan (Susut, Bangli dan Tembuku) sedangkan sisanya hampir 70,45% wilayah Kabupaten terdiri dari satu kecamatan yaitu Kecamatan Kintamani. Luas Kecamatan Kintamani sekaligus juga merupakan kecamatan terluas di Provinsi Bali (6,51% dari luas wilayah Provinsi Bali), lebih besar dari luas wilayah Kota Denpasar (12.778 Ha) dan Kabupaten Klungkung (31.500 Ha) serta hampir sama dengan luas wilayah Kabupaten Gianyar (36.800 Ha).

Kondisi topografi dan morfologi wilayah, juga menyebabkan adanya potensi bencana tanah longsor, karena keberadaan wilayah terutama pada kawasan hulu merupakan kawasan dengan kemiringan yang terjal dan memiliki kerentanan gerakan tanah yang tinggi. Potensi rawan bencana lainnya adalah bencana angin kencang.

Dalam bidang penataan ruang, Kabupaten Bangli sampai saat ini belum memiliki pranata hukum bidang penataan ruang dalam bentuk Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK), yang berfungsi sebagai induk pengaturan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten. Penyusunan Materi Teknis RTRWK sebagai bahan Perda RTRWK telah dikembangkan, begitu pula halnya terhadap produk RDTR Kawasan yang lebih rinci, tetapi belum sempat dapat ditetapkan secara definitive. Namun demikian, rujukan dari Dokumen Teknis Rencana Tata Ruang yang ada telah dipakai sebagai acuan dalam menerbitkan perijinan.

Berdasarkan UU. No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, RTRW Kabupaten Bangli mutlak harus di revisi untuk disesuaikan dengan ketentuan dan rujukan terbaru. Semua produk rencana tata ruang baik yang bersifat umum seperti RTRW Kabupaten maupun yang bersifat rinci, seperti RDTR Kawasan/Kota atau RTR Kawasan Strategis Kabupaten/Provinsi dan Peraturan Zonasi Kawasan harus disertai penetapannya dengan Peraturan Daerah. Kondisi ini menjadi penting untuk menempatkan Rencana Tata Ruang sebagai acuan legal dalam memberikan perijinan pemanfaatan ruang termasuk pengendaliannya.

Ketiadaan acuan penataan ruang, menyebabkan pembangunan fisik wilayah kurang terarah dan kurang terkendali, sehingga potensi penyimpangan pemanfaatan ruang sangat tinggi dan sulit untuk mengendalikannya. Fakta lapangan menunjukkan, bahwa penerapan ketentuan ideal dalam penataan ruang sering sangat sulit diterapkan, terkait pula dengan keterbatasan lokasi pengembangan yang ada dibandingkan potensi yang dimiliki. Beberapa contoh yang sulit dipecahkan adalah maraknya pelanggaran terhadap sempadan jurang pada kaldera Batur untuk pemanfaatan fasilitas penunjang pariwisata, pemanfaatan ruang pada kawasan lindung, pelangaran radius kawasan suci, alih fungsi lahan hutan dan lainnya.

Panjang jalan di Kabupaten Bangli pada tahun 2008 adalah 628,404 km, terdiri atas status jalan provinsi 149.840 km (31,31%) dan jalan Kabupaten 478.564 km. Panjang jalan ini telah meningkat 32,360 km dibandingkan data 5 tahun sebelumnya (tahun 2004)

Kondisi jalan Kabupaten Bangli tahun 2008 adalah kondisi baik 24,40% dan kondisi sedang 35,70%, dan 39,90% kondisi rusak, sedangkan kondisi jalan Provinsi di kabupaten Bangli adalah 58,08% baik, 41,24% sedang dan rusak 0,68%.

Jumlah armada yang kecenderungannya terus menurun bila dilihat data tahun 2004 berjumlah 255 buah dan tahun 2008 menurun menjadi 162 buah. Jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Bangli pada tahun 2004 sebanyak 28,783 unit dan pada tahun 2008 meningkat 37,570 unit, yang berarti jumlah kendaraan bermotor 5 tahun terakhir rata-rata meningkat 6,9% per tahun

Komposisi kendaraan bermotor pada tahun 2008 dirinci menurut jenisnya adalah mobil penumpang 1.257 unit (3,3%), mobil barang 2.944 unit (7,8%), dan sepeda motor 37.570 unit (87,6%). Komposisi ini menunjukkan ketergantungan terhadap pemanfaatan sepeda motor dan mobil barang semakin tinggi dan diperkirakan dimanfaatkan sebagian untuk mengatasi kesulitan transportasi penumpang.

Angkutan danau, di Kabupaten Bangli terdapat di Danau Batur yang didukung oleh keberadaan 4 unit dermaga yaitu Dermaga Kedisan, Dermaga di Desa Trunyan, Dermaga Kuburan Trunyan, dan Dermaga Toya Bungkah. Angkutan danau selain untuk melayani kebutuhan transportasi penduduk juga untuk angkutan pariwisata. Jumlah angkutan danau relatif tetap dari data tahun 2004 sebanyak 82 dan tahun 2008 berkurang 1 buah sehingga jumlahnya sebanyak 81 buah, dan dilengkapi pula 1 buah speedboat untuk patroli keselamatan pelayaran.

Prasarana sumber daya air terdiri dari prasarana irigasi dan prasarana air minum. Sistem Jaringan Irigasi di wilayah Kabupaten Bangli pada tahun 2007 dilayani oleh 45 buah Daerah Irigasi (DI) dengan pelayanan irigasi semi teknis melayani 3.460 Ha sawah. Bangunan-bangunan penunjang jaringan irigasi untuk bangunan pengambil terdiri dari 47 bendung.

Pelayanan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kabupaten Bangli merupakan kombinasi pelayanan olah PDAM, sumur, mata air, cubang dan lainnya. Belum seluruh wilayah dapat terlayani air bersih perpipaan dari PDAM maupun air bersih perdesaan. Kapasitas terpasang PDAM Bangli tahun 2007 adalah 230,5 liter/detik, namun kapasitas produksi hanya 131,5 ltr/dtk.

Jumlah sambungan tahun 2007 adalah 9.606 pelanggan terdiri dari pelanggan Rumah Tangga 8.348 unit, perusahaan niaga 409 unit, sosial umum 340 unit dan kantor/dinas 80 unit. Dari 72 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Bangli, hanya 20 desa/kelurahan yang telah terlayani air bersih perpipaan dari PDAM dan 52 desa belum terlayani air minum dengan variasi cakupan yang berbeda-beda yaitu 2 desa (0-25%), 10 desa (25-50%), 3 desa (50-75%) dan 4 desa (75-100%). Cakupan pelayanan air minum oleh PDAM untuk kawasan perkotaan di Kabupaten Bangli tahun 2007 adalah sebesar 79,33% dan kawasan perdesaan 36,67%.

Infrastruktur telekomunikasi di Kabupaten Bangli meliputi jaringan telepon, jaringan radio, jaringan televisi, jaringan internet, dan sebagainya. Pelayanan telepon di Kabupaten Bangli terdiri atas jaringan terestrial baik dengan sistem kabel maupun nirkabel. Pelayanan telepon sistem Kabel dilayani oleh dua Stasiun Telepon Otomat (STO) yaitu STO Kintamani dan STO Bangli dengan kapasitas terpasang 3.175 SST dan kapasitas terpakai 2.817 SST. Sedangkan pelayanan telepon nirkabel dilayani beberapa menara telekomunikasi yang terdapat di 12 titik lokasi. Pelayanan pos dilayani oleh 4 buah kantor pos di tiap kecamatan yang didukung 7 agen pos desa.

Secara umum wilayah kebutuhan energi listrik di Bali pada beban puncak tahun 2007 mencapai 400,8 MW dan total pasokan energi listrik di Bali dari beberapa sistem pembangkit listrik yang ada mencapai 562 MW. Di Kabupaten Bangli sendiri belum tersedia fasilitas Gardu Induk (GI) sebagai fasilitas penyulang, sehingga jaringan transmisi listrik dfi Kabupaten Bangli disuplai dari Gardu Induk Serongga (Gianyar) dan Gardu Induk Payangan melalui beberapa Penyulang. Jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Bangli tahun 2007 adalah 31.457 pelanggan dengan jumlah pemakaian 31,77 MW.

Pada tahun 2004 jumlah LPD sebanyak 153 buah dan di tahun 2008 bertambah menjadi 156 buah yang tersebar di 4 kecamatan, sedangkan jumlah PAD tahun 2004 sebesar 7.395,41 juta rupiah meningkat menjadi 10.500 juta rupiah di tahun 2008, hal yang sama juga terjadi peningkatan baik dana perimbangan maupun APBD, kontribusi PAD terhadap APBD mengalami penurunan dimana kotribusi di tahun 2004 sebesar 3,92% menurun menjadi 2,32% di tahun 2008, dilain pihak terjadi kenaikan kontribusi dana perimbangan terhadap APBD di tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar 87,96%, sedangkan pada tahun 2008 mampu memberikan kontribusi sebesar 91,63%,

Pada tahun 2008 PDRB Kabupaten Bangli mencapai 1,84 triyun rupiah, secara nominal PDRB mengalami kenaikan sebesar 3,40 triyun bila dibandingkan dengan tahun 2004 yang sebesar 0,24 triyun rupiah, Berdasarkan harga konstan 2000, PDRB mengalami kenaikan dari 0,95 triyun rupiah pada tahun 2007 menjadi 0,98 triyun rupiah di tahun 2008

Selama periode 2004 – 2008 struktur ekonomi tidak banyak mengalami pergeseran, dengan dukungan pariwisata, sektor tersier hanya menyumbang sebesar 51,16% dan pada tahun 2008 mengalami penurunuan bila dibandingkan pada tahun 2004 dimana kontribusinya sebesar 51,70% Sementara sektor primer kontribusinya mengalami peningkatan dari 35,15% di tahun 2004 menjadi 35,68% di tahun 2008 dan sektor sekunder tidak banyak mengalami perubahan yaitu tahun 2004 kontribusinya sebesar 13,14% meningkat menjadi 13,31%.

Struktur perekonomian Kabupaten Bangli dibangun oleh tiga sektor unggulan yaitu sektor pertanian, perdagangan hotel dan restoran serta serta jasa-jasa. Selama kurun waktu 5 tahun (2004 – 2008) rata-rata kontribusi sektor pertanian sebesar 35,51%, sektor perdagangan hotel dan restoran sebesar 26,12% dan sektor jasa-jasa sebesar 19,31%,

Pertumbuhan rata-rata perekonomian Kabupaten Bangli ADHK sebesar 4,25 % dan ADHB sebesar 12,23 %. Perbedaan ini mencerminkan tingkat inflasi yang kian bertambah dari tahun ke tahun, selama kurun waktu lima tingkat inflasi tumbuh rata-rata sbesar 10,37% per tahun, Dilihat dari pertumbuhan persektor maka pertumbuhan ekonomi pada masing-masing sektor relative melambat, sektor yang merupakan sektor unggulan yaitu sektor pertanian justru mengalami perlambatan pertumbuhan dari 6,435 di tahun 2004 menjadi 0,55% di tahun 2008 dan sektor angkutan dan komonikasi dari 4,58 % Tahun 2004 menjadi 0,01 di tahun 2008, dilain pihak ada beberapa sektor yang mengalami percepatan pertumbuhan yaitu sektor industri pengolahan, listrik,gas dan air, bangunan, keuangan, perdagangan hotel dan restoran dan persewaan dan jasa-jasa

Di tahun 2004 PDRB per kapita tercatat sebesar Rp. 5.381.050,- dan ditahun 2008 meningkat menjadi Rp. 8.492.145,- (ADHB). Sedangkan pendapatan perkapita riilnya ADHK tahun 2000, sebesar Rp. 3.947.455 di tahun 2004,- dan tahun 2008 sebesar Rp. 4.533.049,-

Selama kurun waktu tahun 2004 – 2008, Kabupaten Bangli berada pada ketimpangan rendah, karena koefisien gininya berada dibawah 0,35, dan di tahun 2008 GR sebesar 0,2365, sedangkan Menurut Bank Dunia indikator ketimpangan didasarkan hanya pada 40% penduduk berpendapatan terendah minimal 17%, sedangkan di Kabupaten Bangli tahun 2008 sebesar 26,06 %.

Dari hasil pendataan rumah tangga miskin oleh BPS (dengan mempergunakan 14 variabel) diperoleh data bahwa per 31 Mei 2006 jumlah rumah tangga miskin (RTM) di Kabupaten Bangli mencapai 13.191 rumah tangga, sedangkan hasil pendataan 31 agustus 2008 jumlah RTM mencapai 13.451 rumah tangga, ini berarti ada peningkatan sebesar 260 rumah tangga miskin, sedangkan prosentasenya menurun sebesar 1,97 %.

IPM Kabupaten Bangli selama kurun waktu 1996 – 2007 terus mengalami peningkatan, yaitu IPM tahun 1996 sebesar 68,1 meningkat menjadi 69,46 di tahun 2007. Untuk peringkat nasional mengalami peningkatan peringkat dari 249 tahun 2006 menjadi 247 tahun 2007, bila dibandingkan dengan Provinsi Bali, Kabupaten Bangli termasuk peringkat 6 dari 9 Kota/Kabupaten.







Share ing jaringan sosial


Similar:

Pemerintah kabupaten lumajang

Profil Kabupaten Bekasi

Pemerintah kabupaten barito timur

Dinas pendidikan daerah kabupaten blitar

Kabupaten batang provinsi jawa tengah

Hasil osn tingkat smp kabupaten lumajang

R trw kabupaten Deli Serdang 2007-2027

Smp negeri oebaki kecamatan kuanfatu kabupaten tts

Outline Proposal percepatan pembangunan kabupaten kolaka utara

Tes Seleksi Olimpiade Astronomi Tingkat Kabupaten & Kota 2005

Astronomi


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
a.kabeh-ngerti.com
.. Home